Senin, 09 Agustus 2021

KIAT MENULIS CERITA FIKSI


Alhamdulillah setelah seharian menyelesaikan tugas dinas, mlam ini tetap masih diberi kesempatan dan semangat untuk tetap mengikuti kelas menulis bersama Omjay, guru blogger Indonesia. Malam ini pertemuan ke-13 dengan tema menulis cerita Fiksi bersama bapak Sudomo, S.Pt dan yang menjadi moderaornya adalah ibu Aam Nurhasanah. Bapak Sudomo, S.Pt. adalah salah satu alumni gelombang 16 yang telah sukses menulis buku resume dengan gaya cerpen atau  gaya fiksi. Nama panggilannya adalah  Momo DM.

Pak Momo DM lahir di Sukoharjo, 27 Maret 1975 bekerja sebagai Guru IPA di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat. Lulusan S1 Peternakan Universitas Diponegoro yang tinggal di Jalan Adi Sucipto Gang Perjuangan RT 004 RW 023 Lingkungan Baturaja Kelurahan Ampenan Tengah Kecamatan Ampenan Kota Mataram NTB. Bila ingin bersahabat dengan beliau bisa lewat blog pribadi: www.eigendomo.com Akun media social, Facebook Mazmo Lombok, Twitter/Instagram @momo_DM

Beliau malam ini menceritakan tentang perjalanan panjang menulisnya selama ini, terutama menulis cerita fiksi. Pengalaman menulis disampaikan melalui judul “Menulis Untuk Belajar”. Beliau memaparkan tentang pengalaman menulisnya berupa: lomba menulis, proyek menulis, menulis di blog, kelas menulis, komunitas menulis, dan menerbitkan buku.  

Beliau mengikuti berbagai lomba: menulis puisi tahun 2007, menulis desain pembelajaran 2010, menulis novel sebulan tahun 2014, menulis cerita anak tahun 2015, menulis teks literasi tahun 2016, menulis teks literasi tahun 2019, menulis cerita rakyat Sasak tahun 2012-2020, dan menulis di blog PGRI tahun 2021.

Bahkan sudah ada beberapa Proyek menulis yang sudah digarap antara lain: 15 Hari Ngeblog FF, 13 Hari Ngeblog FF, Kisah 1001 Mantan, Legenda Oh Legenda, Kado untuk NTB. Menulis di blog sudah sejak tahun 2009 melalui blog gratis di ww.bianglalakata.wordpress.com, web berbayar www.eigendomo.com, dan Microblogging di Twitter@momo_DM. Dengan menulis di blog yang akhirnya menjadikan dirinya blogger influer. Tak hanya menulis di blog. Beliau mengikuti bebagai kelas menulis, yaitu: Kelas Menulis PGRI, Kelas Telegram Penaguru, Kelas Mnenrtbitkan Buku Bet-ISBN, Kelas Menulis Komunitas Penerbit, dan Kelas Menulus Komunitas Sekolah.

Beberapa jaringan dan kolaborasi dalam menulis, beliau bergabung dalam komunitas menulis: Cakrawala Blogger Guru Nasional, Lombok Blogger, Komunitas Praktisi Sekolah, dan BIZP Mataram. Sebagai bukti fisik pengembangan profesinya telah berhasil menerbitkan beberapa buku yang yang sangat manfaat, antara lain: Cermin tahun, 2011; The Coffee Shop Chronicles, tahun 2021; Dong Ayok ke Lombok, tahun 2013, Dear mama, tahun 2014, Di Penghujung Pelukan, tahun 2017, Pahlawan Antikorupsi, tahun 2018, Pahlawan Literasi, tahun 2021, Bagimu (Anak) Negeri, tahun 2021.

Apa yang telah disampainya adalah sebuah perjalanan panjang yang akhirnya mengantarkan dan  membawanya semakin dalam ke dunia menulis fiksi. Pada saat mengikuti kelas menulis Omjay gelombang 16. Beliau membuat tugas resume kelas menulis, yang berbeda dari yang lain, yaitu menulis resume kelas menulis dengan teknik fiksi, ternyata seru. Buku tersebut akhirnya bisa terbit untuk memenuhi syarat tugas membuat resume kelas menulis Omjay

Setelah beliau menceritakan perjalanan panjangnya sebagai penulis fiksi, beliau menyampaikan kiat-kiat menulis fiksi.  Pertama, yaitu mengapa kita harus menulis fiksi? Ini penting karena menjadi dasar bagi kita untuk belajar menulis fiksi. Alasan utama adalah salah satu materi dalam tes Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)  adalah Teks Literasi Fiksi. Artinya saat ini kita sebagai guru harus bisa menulis fiksi. Tujuannya agar mudah menyediakan soal latihan bagi murid kita. Alasan berikutnya adalah dengan menulis fiksi akan bermanfaat dalam pengembangan profesi kita sebagai guru. Kumpulan cerita fiksi bisa dibukukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Novel termasuk kategori karya seni kompleks. Kumpulan cerpen bisa termasuk kategori karya seni sederhana.

Kedua, syarat menulis fiksi,  yaitu komitmen, riset, membaca karya fiksi, mempelajari KBBI dan PUEBI, memahami dasar menulis fiksi, dan menjaga konsistensi menulis fiksi.

Ketiga, bentuk-bentuk cerita fiksi, yaitu fiksimini, flash fiction, pentigraf, cerpen, prosa, novela, dan novel. Perbedaan terletak pada kompleksitas konflik cerita. Selain itu ada juga batasan kata dan ada juga yang menggunakan batasan paragraf.

Keempat, unsur-unsur pembentuk cerita fiksi, yaitu tema, premis, alur/plot, penokohan, latar/setting, dan sudut pandang. Dari sekian unsur ada premis yang mungkin baru bagi Bapak/Ibu. Apa itu premis? Premis adalah ringkasan cerita dalam satu kalimat. Terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi. Contoh premis: Seorang anak memiliki kemampuan sihir bersekolah di sekolah sihir yang harus melawan penyihir jahat demi kedamaian bumi. Dari contoh jika dijabarkan adalah sebagai berikut:  karakter: anak; tujuan tokoh: kedamaian bumi; rintangan: melawan penyihir jahat; resolusi: belajar sihir

Kelima, kiat menulis fiksi antara lian: (1) Niat, terkait motivasi diri memulai dan menyelesaikan tulisan; (2) Baca karya orang lain, bahan referensi, gaya bercerita, menambah diksi; (3) Ide dan Genre, terkait mencatat ide dan pilihan genre yang disukai dan dikuasai; (4) Outline, terkait kerangka tulisan berdasarkan unsur-unsur pembentuk cerita fiksi; (5) Menulis, terkait membuka  cerita, mengenalkan tokoh, menguatkan konflik, menggunakan pertimbangan logika cerita, susunan kalimat pendek dan jelas, pilihan kata, teknik show don't tell, dan ending yang baik; (6) Swasunting, dilakukan setelah selesai menulis, jangan menyunting sambil menulis, fokus penyuntingan pada kesalahan penulisan, ejaan, kata baku, aturan penulisan, dan logika cerita. Selain itu harus kejam pada tulisan sendiri; (7) Terakhir adalah berpegangan pada KBBI dan PUEBI.

Teknik melatihnya ya dengan terus mencoba menulisnya. Tentu pertama harus memahami teknik show don't tell terlebih dahulu. Sebagai contoh mudah bisa mulai berlatih dari kata sifat, misalnya sedih. Dengan teknik ini kita akan membangun suasana sedih tokoh tanpa harus menuliskan kata sedih.

Contoh:

Tehnik tell : Mira sangat sedih melihat jenazah ibunya.

Tehnik show : Dadanya terasa sesak, napas terasa tersekat di tenggorokan, terdengar isakan dibarengi dengan derai air mata yang tak kunjung usai sembari menatap tubuh wanita yang melahirkannya terbujur kaku di ranjang.

Kisah nyata sangat bisa dijadikan cerita fiksi. Istilah kerennya based on true story. Ini akan membuat cerita fiksi lebih dekat dengan pembacanya. Sedangkan cara memanjangkan cerita fiksi salah satunya adalah menggunakan teknik show don't tell seperti yang saya jelaskan tadi. Kalau untuk jenis novel panjang, tentu harus disiapkan outline/kerangka dengan beberapa konflik yang baik. Membuat cerita hidup bisa dengan cara menguatkan karakter tokoh dan membangun suasana yang baik. Akhir cerita yang baik adalah yang menjawab konflik cerita. Berlaku juga untuk akhir yang menggantung. Agar disukai pembaca bisa dibuat menggantung atau plot twist.

Fiksimini adalah fiksi sangat singkat biasanya beberapa kata saja. Contohnya ANJING DILARANG MASUK. Politisi itu tertegun di depan pagar rumahnya. Flash fiction adalah cerita kilat, biasanya memakai batas jumlah kata khusus, misalnya 50 kata, 100 kata, dan lain-lain. Pentigraf adalah cerpen tiga paragraf. Contoh silakan jelajahi web saya www.eigendomo.com atau bianglalakata.wordpress.com

"Menulislah selagi sempat, jika tidak juga sempat, maka sempatkanlah"

"Belajar terus, seterusnya pembelajar"


Tema               : Kiat Menulis Cerita Fiksi

Narasumber   : Sudomo, S.Pt.

Gelombang    : 19

Moderator      : Aam Nurhasanah

Jumat, 06 Agustus 2021

MENULIS BUKU YANG DITERIMA PENERBIT MAYOR

 

           

        Senang dan bahagia, malam ini saya bisa kembali belajar bersama di pelatihan belajar menulis PGRI gelombang 19 Jumat 6 Agustus 2021. Semoga diberikan kelancaran dan pemahaman dalam belajar saya. Malam ini, akan belajar bersama dengan orang hebat di sebuah penerbitan, dengan tema “Menjadi Penulis Buku Mayor”.

Judul yg bagus bukan? Siapa yang menjadi narasumber malam ini? berikut indentitas singkat beliau :


Sudah hampir 20 tahun beliau hidup di dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di Indonesia membuatnya selalu bersemangat jika diajak berdiskusi seputaran penerbitan dan penulisan buku. Saat beliau menjadi narasumber yang paling sering ditanyakan adalah apa syaratnya agar tulisan bisa diterbitkan oleh penebit mayor? Kreteria penerbiat Mayor itu apasih, lalu apa bedanya dengan penerbit minor atau penerbit Indie yang mulai banyak bermunculan akhir-akhir ini? Sebelum teknologi informasi berkembang pesat seperti sekarang ini, orang hanya mengenal penerbit Mayor dan penerbit Minor, masing-masing punya pendapat masing-masing apa yang membedakan penerbit mayor dan penerbit minor. Namun semua pendapat itu merujuk pada satu kesimpulan yang pasti yaitu Jumlah terbitan buku pertahun penerbit mayor jauh lebih banyak dibanding penerbit minor. berapa jumlahnya? masing-masing punya pendapat sendiri.

Penulis merasa lebih bangga jika karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor, tentunya karena naskah karyanya akan dikelola lebih profesional, penerbit mayor biasanya punya fasiliatas lebih baik, modal, percetakan, SDM juag jaringan pemasaran yang lebih luas. Juga agar karya para penulis bisa masuk diterima dan diterbitkan oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan yang sangat amat ketat. Contoh di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa sampai 300 sampai dengan 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sampai dengan 60 judul saja. Tentunya sisanya dikembalikan ke penulis atau ditolak. Karena begitu sulitnya menembus penerbit profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang saat ini penerbit seperti ini biasa disebut dengan Penerbit Indie.


Naskah buku yang bisa diterima dan diterbitkan oleh penerbit profesional seperti penerbit ANDI adalah semua naskah buku yang bisa dijadikan buku lalu laris dijual. Berikut ini adalah pengelompokan buku yang bisa dijual dipasaran:


      Kelompok besar buku dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks, Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahasiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Di tingkat sekolah disebut buku pelajaran disingkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI. Sedangkan buku non teks adalah sebaliknya dan cenderung disebut sebagai buku-buku populer karena memang kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.


               
Contoh buku teks.                                                               Contoh buku non teks.

 

Namun dalam prakteknya pemakaian buku oleh pembacanya tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok-kelompok tadi, apapun buku yang dibaca bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari hari maupun dalam rangka mendapatkan jennang akdemik yang lebih tinggi.

Penerbit adalah lembaga profitable yang mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sehingga karyawan sejahtera, komsumen puas dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Oleh karena itu penerbit boleh dikatakan industri. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan baku output industri, jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak.

Ini adalah gambaran industri penerbitan secara lengkap, namun jika disedrhanakan akan menjadi seperti berikut ini :

             

Naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual.

              

Pembobotan penilaiannya.

              

Alasannya mengapa diterima atau ditolak.

            

Ini salah satu data yang dapat dilihat dari Google Trend. dalam contoh grafik di atas mencoba uji apakah buku yang membahas tentang batu akik sedang dibutuhkan masyarakat saat ini tidak. ternyata tidak, buku batu akik laku sekitar tahun 2013 sd 2014 namun saat ini sudah tidak.

                  
ini adalah contoh tema yang memiliki trend yang baik bisa dilihat dari grafiknya ; selalu tinggi, stabil dan tidak pernah menyentuh titik nol.

Hindari tema-tema yang telah mati karena Corona.

Ini adalah bidang bidang baru  karena Corona, tema-tema yang membahas seputaran bidang inilah yang kemungkinan laku. Selanjutnya jika tema telah bagus, penerbit akan mengecek reputasi penulisnya, salah satu dapat ditelusuri dari Google Schoolar.


Berikut dasar pertimbangan penerbit dalam menentukan oplah atau jumlah cetak.

Penerbit akan menentukan oplah tinggi jika uku itu dinilai mempunyai market lebar dan lifesycle panjang. Life cycle panjang artinya buku itu akan tetpa relevan dimasa yang akan datang dalam waktu yang panjang.

Apa yang akan diperoleh dari seorang penulis, berikut jawabannya :


Dan apakah kita termasuk dalam kategori penulis idealis (tidak butuh uang) atau penulis industrialis (yang harus mendapatkan uang saat menulis).

 Yang disukai penerbiat adalah kwadran kanan atas yaitu IDEALIS sekaligus INDUSTRIALIS.

Disampaikan juga oleh narasumber bahwa Visi penerbit ANDI adalah ikut serta dalam mencerdaskan bangsa. Jadi selama buku itu mencerdaskan baik teks maupun non teks tetap akan diterbitkan. Ada dua kategori buku yang tidak akan pernah kami terbitkan selaris apapun buku itu, Buku yang tidak akan kami terbitkan kapanpun adalah Buku Pornografi dan buku Politik Praktis.

Yang hendaknya penulis lakukan agar tulisan bisa diterima di penerbit mayor, yaitu bersahatlah dengan penerbit, dengan penulis-penulis yang sudah berhasil tembus penerbit mayor, dan diskusilah, bertanyalah, maka jawaban-jawaban itu akan penulis dapatkan dari sana. Tidak hanya jawaban yang pasti tetapi motivasi.  Jika alasan penolakannya adalah tema tidak populer sulit untuk diterima, tetapi jika alasan penolakannya karena penulis kurang populer terkait dengan tema buku yg ditulisnya, maka penerbit akan menyarankan penulis tersebut mencari partner penulis lain yang namnya populer terkait dengan tema buku yg ditulis. Untuk buku populer analisanya bisa kita cocokan salah satunya dengan data grafis di Google Trens. Namun untuk buku fiksi sebaiknya lanjutkan saja sampai selesai, lalu lanjut dengan judul lain dan bila perlu genre fksi yang lain.

Untuk buku populer analisanya bisa kita cocokan salah satunya dengan data grafis di Google Trens. Namun untuk buku fiksi sebaiknya lanjutkan saja sampai selesai, lalu lanjut dengan judul lain dan bila perlu genre fksi yang lain. Buku Fiksi akan mengalami pasang surut dipasaran tergantung pemicu dari banyak aspek. Misal saat ini yang lagi trend adalah Fiksi dngan genre Sastra Serius. Sebelumnya yang laris adalah gaya fiksi K-Pop, dan sebelumnya lagi adalah novel-novel idealis, begitu seterusnya kan berputar. Jadi kalau sudah punya novel simpan saja dan keluarkan pada saat yang tepat. Namun kalau penulis punya jaringan ayng luas bisa memakai endors-endors agar novelnya dibaca banyak orang.

Bagi para penulis pemula disarankan untuk menulis buku-buku dengan tema-tema yang sedang ngtrend. Menulis, menerobos penerbit mayor dengan setidaknya 5 judul buku yang best seller. Bila itu terjadi maka penulislah yang dikejar-kejar penerbit mayor agar mau menerbitkan naskah melaui penerbitnya. Wow keren … Kreteria utama naskah bisa diterima adalah jika menurut penerbit naskah itu jika nantinya diterbitkan berupa buku akan banyak pembelinya, karena buku itu sedang banyak dibutuhkan masyarakat. Jika temanya sangat kuat dan belum ada pesaing dipasaran maka penerbit akan berani menerbitkan walau penulisnya belum punya reputasi. Namun dapat juga berpangan menulis dengan penulis yang sudah punya reputasi.

        Semua berasal dari mimpi, kejarlah mimpi itu, menjadi penulis akan mendapatkan segala yang diinginkan. Menulis tidak mengenal usia, ada banyak penulis bukunya mendi best seller setelah penulisnya meninggal. Tentunya kita semua pernah baca kamus tulisan Hasan Sadeli, sampai saat ini anak cucunya masih menikmati warisan royaltynya.

Tema               : Menjadi Penulis Buku Mayor

Narasumber   : Joko Irawan Mumpuni

Gelombang    : 19

Moderator      : Mr. Bams

Kamis, 05 Agustus 2021

MENGUAK DAPUR PENERBIT MAYOR

 

Hari ini Rabu tanggal 4  Agustus 2021 merupakan pelatihan menulis yang ke 11 dengan Narasumber Bapak Edi. S Mulyana. Dan dimoderatori ibu Sri Sugiastuti atau lebih dikenal dengan panggilan Bu Kanjeng. Tema malam ini adalah Menguak Dapur Penerbit Mayor, tema yang sangat menarik dan sangat penting bagi seorang penulis terutama penulis pemula seperti saya. Untuk lebih mengenal Bapak Edi. S Mulyana kita bisa tengok link biodata berikut https://omjaylabs.wordpress.com/2020/04/22/biodata-edi-s-mulyanta/

Beliau mengelola penerbitan dari tahun 2001 sehingga genap 20 tahun berkecimpung di dunia produksi buku. Sebelumnya Beliau adalah penulis lepas yang hidup dari menulis buku, hal ini menjawab pertanyaan beberapa calon penulis, apakah bisa hidup dari menulis buku.Penulis dan penerbit telah dilindungi undang-undang secara penuh sejak terbitnya UU no 3 Tahun 2017 yag diikuti oleh Peraturan Pemerintah 2 tahun kemudian yaitu PP No 75 tahun 2019.

Dalam UU no3 dijelaskan dengan detail bagaimana proses industri penerbitan dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Diatur dengan detail dan kemudin disempurnakan dengan PP No 75 yang lebih detail mengatur proses membuat naskah hingga menyebarluaskannya. Apabila kita ingin menjadi penulis, saran beliau kita perlu mempelajari dengan seksama pada peraturan pemerintah no 75 tersebut, karena dengan PP ini proses penerbitan buku akan mejadi lebih cepat.

Kenapa lebih cepat, karena ada aturan-aturan yang detail bagaimana sisi penulis mengajukan naskah hingga sisi penerbit dalam mengelola naskah menjadi buku.

Pembagian penerbit mayor dan minor sebenarnya tidak ada dalam Undang-undang perbukuan no 3 tersebut. Jadi ini hanya pembagian yang secara alamiah terjadi, dimana penerbit mayor tentu mempunyai jumlah produksi yang lebih tinggi dibanding dengan penerbit minor. Oleh Perpustakaan nasional, kemudian digolongkan kedalam penerbit yang berproduksi ribuan dan ratusan yang terlihat dalam pembagian ISBN yang dikeluarkannya.

Dikotomi penerbit mayor dan minor, kemudian terjadi juga di sisi pemasaran bukunya, di mana ada penerbit yang mampu menjangkau secara nasional dan ada yang regional saja. Hal ini diperuncing lagi dengan pembagian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia atau Kemendikbud DIKTI, yang mensyaratkan terbitan buku harus berskala nasional penyebarannya. Penerbit yang sudah terlanjur beroplah besar tentu tidak ada masalah dengan hal ini, karena memang skala produksi dan skala mesin produksinya memang sudah terlanjur besar, sehingga untuk memenuhi pasar nasional tidak terlalu sulit. Outlet toko buku, merupakan sarana pemasaran yang cukup efektif. Kemarin mungkin sudah dijelaskan dengan gamblang oleh pak Agus Subardana.

Di Era pandemi ini ternyata mengubah pola distribusi buku dengan cukup signifikan, dimana saluran outlet yang dahulunya menjadi jalur utama, saat ini justru menjadi korban dari keganasan virus Covid 19, karena ditutupnya jaringan-jaringan toko buku atau dibatasinya aktivitas pusat perbelanjaan. Di sisi penerbit, sebagai dapur pengolahan naskah dari penulis, sebenarnya tidak ada masalah yang cukup berarti dari sisi penerimaan naskah baru. Di era pandemi ini, naskah masih saja mengalir dengan cukup baik. Mungkin karena banyak calon penulis yang melakukan WFH sehingga banyak waktu untuk melakukan penulisan naskah buku.

Tuntutan untuk tetap produktif kepada para pengajar baik guru maupun dosen, menjadikan laju naskah baru masih tetap terjaga dengan baik. Yang menjadi kendala adalah justru dipengolahan naskah, mulai dari editorial, setting perwajahan dan cover hingga produksi buku cetak. Outlet toku buku fisik banyak terkendala kebijakan pemerintah, sehingga secara otomatis proses penerbitan buku menjadi melambat menyesuaikan dengan kondisi output penjualan buku yang melambat.

Dengan berlakunya PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis Toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop dan terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet terjun bebas hanya berkisar 80-90% penurunannya. Outlet yang tertutup menjadikan beberapa penerbit ikut terimbas, sehingga mereposisi bisnisnya kembali. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit menanti bersemi di Toko Buku. Sebelum hari raya 2021, perkembangan penjualan buku cukup baik, membuat banyak penerbit menaruh harapan yang cukup tinggi pada saat itu. Setelah hari raya, ternyata gelombang Covid mengembalikan penjualan buku ke titik terendah sejak 2020, sehingga kami sebagai penerbit akhirnya harus mencoba outlet-outlet baru.

Pengalaman di Penerbit Andi, identifikasi tema buku menjadi sangat penting saat keadaan chaos seperti ini. Mereka merasa beruntung tema-tema yang up to date mengenai virus corona, telah mereka tebar ke penulis-penulis sebelumnya, sehingga dengan cepat kami mendapatkan bahan-bahan buku-buku yang berkaitan dengan virus dengan cepat. Kesiapan penulis, dalam menuliskan materi dalam sebuah buku menjadikan tantangan tersendiri, mengingat bahan-bahan sumber rujukan masih belum tersedia dengan mudah. Penerbit Andi mempunyai database penulis yang cukup baik, sehingga dengan cepat mereka mengidentifikasi siapa penulis yang berkompeten di bidang ini, Dan dengan cepat mereka dapat meramu materi, kemudian mereka launch, dan ternyata mendapatkan sambutan yang baik.

“Kesiapan penulis dalam updating materi tulisannya adalah menjadi mutlak diperlukan untuk dapat ditawarkan hasil tulisannya tersebut ke penerbit.”


Saat ini Penerbit Andi mereposisi produksi buku fisik untuk tidak dilakukan pencetakan secara massal, akan tetapi menyesuaikan dengan kondisi pasar yang fluktuatif. ini tentunya memberikan kesempatan yang lebih lebar kami sebagai calon penulis untuk mencoba meamasukan era baru ini, di mana produksi buku akan mengikuti keinginan pasar secara lebih spesifik. Penerbit Andi saat ini mencoba untuk dapat memenuhi permintaan cetak dari 10 eksemplar hingga 300 eksemplar. Range produksi ini disesuaikan dengan keadaan daya serap pasar yang cenderung mengikuti komunitas dari penulis bukunya sendiri. Penjualan online cukup membantu untuk tetap menjaga cash flow dan yang paling penting mencoba untuk memproduksi buku dalam bentuk digital atau e-book supaya kesempatan untuk terbit menjadi lebih luas.


ini contoh salah satu karya dari Belajar menulis Semoga bisa membangkitkan semangat kita untuk tetap berkarya

Salah satu trik untuk mempercepat terbit adalah mengikuti arahan dari PP 75, yaitu melakukan editing mandiri dari sisi penulis, sehingga akan sangat membantu dalam proses editorial di sisi penerbit.

Sedangkan editorial di sisi penerbit adalah berkut ini :

Penulis dapat mencoba mempelajari bagaimana melakukan editing mandiri sebelum diserahkan ke penerbit, sehingga proses penerbitam akan dapat dipersingkat. Syarat utama dalam sebuah tulisan adalh tulisan harus Baik dan Unik, baik dalam arti pemilihan tema yang menarik dan yang paling penting adalah unik, karena mempunyai hal yang berbeda dengan yang lain dan mempunai nilai kebaruan. Kekurangan penrebit mayor adalah banyaknya naskah yang masuk, sehingga waktu seleksi dan produksi terbebani dengan antrian yang sangat banyak. Untuk dapat deal dengan cepat, semua penerbit mayor akan sangat tertarik jika penulis mempunyai captive market sendiri. Sehingga penulis yang mempunyai massa (guru, dosen, penggiat, artis) menjadi magnet yang cukup menarik untuk dapat diterbitkan karyanya.

Selain syarat utama, syarat fisik adalah Buku sebaiknya sudah diputuskan formatnya oleh penulis, dalam arti penulis sudah mempunyai bayangan ukuran buku, ketebalan, dan siapa pembacanya. Struktur buku yang baik, juga sangat menarik editorial untuk memutuskan diterbitkan atau tidak sebuah buku. Dengan struktur buku yang baik, tentu akan memudahkan naskah untuk diolah secara optimal.

Trik untuk bisa menerbitkan di Mayor sebagai penulis pemula agar dapat lolos di penerbitan Mayor. Yang dapat dilakukan adalah tulisan mempunyai tema yang up to date atau mempunyai nilai kebaruan yang baik. Ataupun kalau sebagai follower dari tema buku yang sudah ada harus mempuyai keunikan tersendiri. Hal inilah pentingnya untuk mengamati buku pesaing yang telah terbit, penulis bisa mencari kelemahan buku tersebut degan menuliskan dari sisi lain. Banyak penulis pemula yang lolos, terkadang memang memanfaatkan captive market atau menguasai massa sehingga penerbit dapat dengan percaya diri menerbitkan dan memasarkan buku tersebut karena berbagi data dengan penulis.

Di penerbit mayor terkadang banyak naskah yang menjadi pilihan sehingga diafragma pemilihan naskah menjadi semakin kecil untuk memilah dan memilih buku yang akan diterbitkan. Sebagai penulis pemula sebaiknya menggandeng penulis yang lebih senior untuk dijadikan mitra penulisan, untuk mengangkat nama penulis pemula. Bisa menggunakan trik meminta Kata Pengantar atau meminta Comment yang dapat ditampilkan di cover buku atau back cover buku.

Lamanya proses penerbitan sebuah buku dari mulai menyerahkan naskah hingga terbit. Proses penerbitan standar dengan rerata antrian: Penilaian 3 minggu, Editorial 3 Minggu, Setting Perwajahan dalam buku paralel dengan Cover buku 3 minggu, Proses cetak 3 minggu, dan terakhir distribusi 1- 2 bulan. Dan untuk tulisan dalam bahas Inggris/ bahasa asing penerbit mayor memiliki editor khusus untuk bahasa Inggris, walaupun editorial yang dilakukan adalah hanya dari segi kebahasaan dan struktur buku Jika naskah buku berbahasa asing tidak disyaratkan proof reading oleh ahli, akan tetapi sebaiknya memang melampirkan bukti tertulis bahwa buku sudah di proof reading oleh ahli. Untuk penerbitan buku digital, penerbit bekerjasama dengan Google Books. Apabila buku digital sudah dibeli, tidak bisa di_sharing_ ke orang lain. File buku tersimpan di Server Google, yang terbukti cukup aman dari proses pengambilan dari orang yang tidak membeli bukunya.

Pada Penerbit Andi  tetap melakukan seleksi, karena target mereka adalah tetap memproduksi buku secara massal, tidak hanya Print On Demmand seperti penerbit Indie. Karena sisi permintaan penulis saja mereka akan menerima pesanan buku skala kecil. Dan tidak menambah tingkat seleksi buku, karena setelah mereka amati trend buku tidak terpengaruh oleh lesunya pasar buku karena pandemi. Penerbit Andi malah memperlebar outlet ke buku digital, supaya semua buku bagus bisa terbit, walaupun tidak melalui proses cetak fisik.

Salah satu trik/strategi yang paling mendasar agar karya bisa tembus ke penerbit Mayor:

1.     Gandeng penulis lain untuk memroduksi buku.

2.     Skala kecil dahulu tidak ada masalah, yang penting captive market bisa dijadikan tumpuan awal.

3.     Tulis berbarengan, sehingga pembiayaan buku menjadi lebih ringan, kemudian usulkan proposal naskah ke penerbit, dengan menawarkan captive market tersebut

            Genre yang mudah diterima pasar, dan menjadi prioritas diterima karya tsb di penerbit ANDI adalah dengan mengikuti aturan dari PP 75 tentang jenis buku

Pada Penerbit Indie, sangat tergantung dari kemampuan penulis dalam mendanainya, sehingga apabila terhenti biasanya adalah masalah pendanaan dan distribusi. Cara memandang naskah memang berlainan antara penerbit indie dan penerbit mayor. Biasanya kalua di penerbit Andi berpikir, jika didanai bisa jalan tidak bukunya artinya memandang naskah dengan skala produksi yang masif. Terkadang faktor penulis yang meminta untuk dapat terbit dengan skala kecil, karena kemampuan pendanaan di sisi penulis memang baru seperti itu. Untuk buku yang pernah diajukan, memang sebaiknya berterusterang ke penerbit tersebut apakah faktor pendanaan tadi yang menjadi masalah.

Jika penulis ingin menerbitkan bukunya di  Penerbit Andi, ketentuan tulisan yang harus dipenuhi. Jumlah halaman sebaiknya antara 75-150; ukuran A4; spasi 1,5; huruf times new roman 12. Ketebalan buku menentukan ukuran punggung buku, sehingga dapat diberikan penanda judul buku di punggung buku. Jika terlalu tipis, punggung buku tidak bisa diberikan penanda judul buku. Toko buku biasanya tidak menghendaki buku terlalu tipis, karena susah men display di rak buku Lama buku diterbitkan sejak naskah diterima tergantung kalau POD dan dananya ada, biasanya lebih cepat dibanding dengan reguler yang dibiayai sendiri oleh penerbitnya.

Penulis  akan tahu bahwa bukunya sudah diterbitkan, Penerbit akan memberikan Surat Perjanjian sebelum dicetak massal, kemudian setelah buku diproduksi, buku akan dikirimkan sampelnya ke penulis. Penulis  juga bisa tahu bukunya diminati boleh pembaca atau tidak. Penerbit mempunyai kokpit untuk mengawasi tingkat daya serap di pasar. Biasanya dilaporkan oleh toko buku bahwa buku tersebut masuk di rak Diminati atau di Best Seller Dan akan lebih terlihat saat pembayaran royalty buku. Ada standar perhitungan tertentu dari penerbit, yang dapat menentukan buku ini diminati atau tidak.

Banyak tema-tema buku yang masih belum tergarap. Ada buku tema terntu yang sangat dicari penerbit akan tetapi tidak pernah terpenuhi. Contohnya buku Ajar Arsitektur, dari dahulu sampai sekarang buku itu tidak ada yang nulis. Kalau ada penulis pemula masuk di tema itu, bisa langsung terbit tanpa diseleksi oleh penerbit, karena minimnya penulis yang menulis tema tersebut. Tema-tema tentang Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, HOTS, masih sangat menarik untuk dimasuki. Kreatifitas penulis adalah kuncinya. Semakin menarik tema tersebut diolah penerbit akan semakin tertarik untuk menerbitkannya. Sebaiknya diperkaya dengan media-media yang lain sehingga memperkuat posisi buku tersebut.

Ini contoh buku Pak Edi yang masih eksis hingga saat ini. Buku tersebut menjadi rujukan dari mahasiswa, peneliti, atau penulis yang lain sehingga berimbas pada pasar buku yang masih terjaga dengan baik, walaupun buku sejenis sudah banyak menyainginya. Rajinlah memberikan definisi, pengertian, penjelasan supaya dirujuk oleh penulis lain.

Sebagai contoh di buku beliau yang menyebutkan definisi file, akhirnya definisi tersebut dipakai oleh semua orang namanya tercantum di setiap pencarian file

Setiap bulan Penerbit Andi mempunyai target naskah 30-60 naskah.. dalam satu tahun target kami adalah 500 naskah terbit. saat ini terbitan fisik mereka switch ke digital karena pasar buku fisik yang melemah, di samping faktor PSBB, PPKM yang cukup membatasi jumlah produksi akhirnya. Untuk Royalty penulis adalah 10% dari harga buku yang dikeluarkan oleh penerbit. Akan dibayarkan setiap 6 bulan setelah tanggal terbit dan selanjutnya sampai buku tersebut habis terjual. Tidak ada dampak ke penulis, karena penerbit sudah menanggungkan risikonya untuk memutuskan penerbitan buku dan pemasarannya. Mereka tidak pernah mem black list penulis gegara buku tidak laku.

 

Tema               : Menguak Dapur Penerbit Mayor

Narasumber   : Edi. S Mulyana

Gelombang    : 19

Moderator      : Sri Sugiastuti




 

 

 

 

 



Jumat, 30 Juli 2021

MENGATASI WRITER’S BLOCK

 


Malam ini tanggal 30 juli 2021 adalah malam kedua saya mengikuti materi belajar menulis bersama Omjay di gelombang 19. Bunda Maesaroh, M.Pd sang Blogger Millenial sebagai moderator menyapa ramah kepada para peserta. Materi yang akan disajikan kali ini tak kalah pentingnya dengan materi-materi sebelumnya. Karena malam ini akan mempelajari materi Mengatasi Writer's Block. Sebuah materi yang merupakan modal dalam membuat tulisan berkualitas.

 Maesaroh memperkenalkan pada seluruh peserta, narasumber cantik nan cerdas asal kota Subang. Sang peraih Penghargaan Bupati Subang (2020), pula peraih Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi (2021). Prestasi literasinya yang membanggakan hingga karyanya yang mampu menembus Penerbit Mayor, memberikan jejak prestasi  literasi yang baik bagi tanah Subang. Beliau gemilang dengan karya di masa muda yang membahana, semangat literasi yang luarbiasa memikat hati para pembaca.  Beliau adalah perempuan  cerdas bernama Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.

Mengawali karir sebagai peserta kelas menulis PGRI pada gelombang 7, beliau mampu membuktikan kepiawaiannya dalam menulis, hingga naik kelas menjadi moderator dan menjadi Narasumber di berbagai pelatihan. Profil lengkapnya bisa dilihat di blog : https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html

Pada malam ini beliau berbagi ilmunya tentang sebuah istilah yang dipopulerkan pertama kali oleh psikoanalisis Edmund Bergler “writer's block”. Jika kita pernah merasa tak punya ide menulis, sudah menulis tapi kemudian kehilangan kata-kata, itulah writer’s block alias kebuntuan menulis. Wikipedia mengartikan writer's block sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya.

Tanda-tanda writer's block adalah Sulit fokus, tidak ada inspirasi menulis, menulis lebih lambat dari biasanya, atau merasa stres dan frustasi untuk menulis  Keadaan ini bisa menimpa penulis pemula maupun profesional. Namun pada umumnya writer's block ini tidak disebabkan oleh masalah komitmen/kompetensi menulis.

Lamanya writer's block menyerang tergantung seberapa cepat seorang penulis mampu mengatasi kondisi writer's block tersebut. Dengan kata lain, writer's block bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, hari, bulan, bahkan bertahun-tahun. Agar bisa mengatasi writer's block, langkah penting yang harus kita lakukan adalah mengetahui penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab, kita bisa lebih fokus mencari solusinya.

Penyebab writer's block diantaranya adalah mencoba metode/topik baru dalam menulis, stress, lelah fisik/mental, terlalu perfeksionis, atau merasa "kekurangan inspirasi" dalam menulis. Di saat writer's block telah menyerang, tapi jika kemudian kita teguhkan komitmen dan mencari bahan bacaan tambahan, maka writer's block yang terbentuk bisa segera kita hancurkan.

Tak hanya topik baru, metode baru dalam menulis pun bisa membuat kita terserang writer's block. Misal jika kita terbiasa menulis karya tulis ilmiah. Kemudian diminta membuat puisi. Keduanya tentu memiliki metode penulisan yang berbeda. Bagi yang belum terbiasa, tentu akan mengalami kesulitan saat harus menulisnya. Pada kasus ini, mempelajari teknik dan banyak berlatih menulis merupakan solusi terbaik untuk meminimalkan dampak writer's block.

Hanya sedikit yang masih mampu menulis dalam keadaan sakit/lelah fisik. Pada kondisi ini, istirahat sejenak adalah pilihan terbaik. Otak dan tubuh kita bukan mesin, maka ketika penat, beristirahat sejenak. Cari ruang dan udara segar. Lakukan hal-hal yang membahagiakan. Refresh kembali hati dan pikiran kita sehingga kita bisa mendapat inspirasi baru.

Terlalu perfeksionis pun bisa menjadi penyebab kita sering terkena writer's block. Ada pepatah yang mengatakan perfectionism kills creativity. Perfeksionis itu bisa mematikan kreativitas. Saat menulis, orang yang perfeksionis mungkin akan berpikir apakah kalimatnya sudah tepat? Apakah ada kaitan dari paragraf satu ke paragraf lainnya? dan sebagainya. Atau Ketika seseorang pernah sangat populer dengan tulisannya. Misal postingan di blog yang baca hingga ratusan bahkan ribuan. Menerbitkan buku hingga best seller. yang seperti ini pun bisa jadi terjebak dalam lingkup perfeksionis. Tulisan sebelumnya booming, yang sekarang tentu harus booming juga. Harus laku juga. Harus banyak yang baca juga. Kekhawatiran seperti itu justru bisa membuat writer's block nempel lebih lama pada kita. Jika ini terjadi, maka “Ingatlah kembali alasan awal kita menulis. Tujuan kita menulis. Masa-masa saat kita merintis menjadi seorang penulis.”

Cara efektif dan cerdas mengatasi writer's block yang dapat kita lakukan adalah dengan menekuni kembali hobi kita. Misal jalan-jalan, bisa merefreshkan pikiran dan hati. Baca buku yang ringan-ringan saja, novel karya Tere Liye misalnya. Dan untuk mengatasi rasa malas menulis, bisa dicoba dengan membuat target atau tantangan, atau yang lebih menyenangkan beri reward untuk diri sendiri saat telah selesai menulis.

Saat kita  duduk, tiba-tiba memiliki banyak  tema yang bisa dijadikan bahan untuk menulis. Saat ide-ide bermunculan, hendaknya kita segera mencatat di note. Zaman sekarang sudah canggih, kita bisa langsung rekam ide-ide kita di gawai. Minimal buat outline tulisan terlebih dahulu, karena outline akan menangkap ide kita sehingga tidak terbang ke negeri antah berantah

Mengatasi writer's block agar tidak terlalu lama juga bisa dilakukan dengan banyaknya aktivitas berpikir, salah satu yang bisa dicoba adalah gunakan golden time saat menulis. Tiap orang punya golden time masing-masing. Ada yang fokus menulis sebelum tidur. Ada yang bisa fokus menulis saat menjelang matahari terbit. Pada dasarnya, WB yang menimpa setiap orang akan berbeda. Maka penanganannya pun akan berbeda. Ibarat orang yang sakit jantung. Tak mungkin kita beri obat sakit ginjal. Yang lebih tau kelebihan dan kekurangan diri, sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Maka cara paling efektif untuk menghindari writer's block adalah dengan mengenali diri sendiri. Menemukan titik-titik sumber kebahagiaan sehingga writer's block akan jauh dari kita.

J.K Rowling dan Dee Lestari adalah contoh penulis hebat yang pernah mengalami writer's block. writer's block dalam dunia menulis itu ibarat sebuah siklus sebetulnya. Ketika kita bisa menyelesaikan writer's block tahap pertama, maka akan ada writer's block tahap berikutnya. Karena pasti tantangan dalam menulis akan selalu ada. Kita tidak perlu memasang standar tertentu untuk tulisan kita. Tetapkan standar sesuai kemampuan kita, kita harus selalu mawas diri. Tetapkan standar sambil terus bergerak.

Writer's block sebetulnya bisa saja terjadi di awal, tengah maupun akhir tulisan kita. Namun lebih banyak yang mengira bahwa writer's block itu dirasakan di awal atau tengah saja. Lain halnya dengan orang yang sering melihat speedometer. Saat akan ngegas, malah ngerem karena muncul rasa was-was. Dalam menulis pun begitu, terkadang, kita memang harus membutakan diri dengan segala kaidah agar tulisan kita bisa rampung.. Menulis tanpa memikirkan tanda baca memang sulit dilakukan di awal. Tapi jika sudah terbiasa, sungguh itu sangat membantu dalam mengatasi writer's block. Minimal, mengurangi durasi writer's block-nya.

Bisa itu karena biasa. Dalam menulis pun sama. Asalkan kita konsisten menulis. Menambah jam terbang kita dalam menulis, dengan sendirinya ketidakteraturan menulis, tulisan yang tanpa arah, dan kesalahan-kesalahan lain akan berkurang. Mengapa? Karena setiap kita menulis, setidaknya kita akan melakukan self editing. Melakukan refleksi baik sadar/tidak. Dan hal tersebut akan menjadikan kualitas tulisan kita semakin baik.

Writer's block adalah kendala umum bagi para penulis, namun ketika komitmen dalam menulis sangat matang, maka kita akan dapat menulis dengan mengalir . Selain itu, me-refresh pikiran dengan melakukan aktivitas yang kita sukai, bisa membangkitkan selera menulis dan menepis gejala writer's block.


 Resume ke      : 2

Tema               : Mengatasi Writer’s Block

Narasumber   : Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr

Gelombang    : 19

Moderator      : Maesaroh, M.Pd